PENDIDIKAN SEUMUR
HIDUP DALAM PANDANGAN ISLAM
Jauh
sebelum PBB pada tahun 1970-an memprakarsai “pendidikan seumur hidup-PSH” (Lite
Long Integrated Education), dalam Islam pada abad ketujuh telah ditegaskan:
Uthlub al’ilma min al-mahdi ila al-lahdi (tuntutlah ilmu dari buaian hingga
liang lahat). Sayangnya, kepopuleran ajaran pendidikan seumur hidup dari
Rasulullah SAW itu tidak sempat menggugah perhatian kita untuk memprakarsainya
menjadi word program.
Dalam
GBHN termaktub: “pendidikan berlangsung seumur hidup dan dilaksanakan di dalam
lingkungan rumah tangga, sekolah dan masyarakat. Karena itu, pendidikan ialah
tanggung jawab bersama antara keluarga, masyarakat dan pemerintah”. Berarti
setiap insan Indonesia dituntut selalu berkembang sepanjang hidupnya. Sementara
itu masyarakat dan pemerintah harus menciptakan suasana untuk selalu belajar.
Sebab masa sekolah (formal) bukanlah masa “satu-satunya”, tetapi hanya sebagian
dari waktu belajar yang berlangsung sepanjang hidup.
A. URGENSI PENDIDIKAN SEUMUR HIDUP
Drs
H Fuad Ihsan (1996:44-45) dalam buku Dasar-dasar Kependidikan, menulis beberapa
dasar pemikiran --ditinjau dari beberapa aspek-- tentang urgensi pendidikan
seumur hidup, antara lain: Aspek ideologis, setiap manusia yang dilahirkan ke
dunia ini memiliki hak yang sama untuk memperoleh pendidikan, meningkatkan
pengetahuan dan menambah keterampilannya. pendidikan seumur hidup akan membuka
jalan bagi seseorang untuk mengembangkan potensi diri sesuai dengan kebutuhan
hidupnya.
Aspek
ekonomis, pendidikan merupakan cara yang paling efektif untuk dapat keluar dari
“Lingkungan Setan Kemelaratan” akibat kebodohan. pendidikan seumur hidup akan
memberi peluang bagi seseorang untuk meningkatkan produktivitas, memelihara dan
mengembangkan sumber-sumber yang dimilikinya, hidup di lingkungan yang
menyenangkan-sehat, dan memiliki motivasi dalam mendidik anak-anak secara tepat
sehingga pendidikan keluarga menjadi penting.
Aspek
sosiologis, di negara berkembang banyak orangtua yang kurang menyadari
pentingnya pendidikan sekolah bagi anak-anaknya, ada yang putus sekolah bahkan
ada yang tidak sekolah sama sekali. pendidikan seumur hidup bagi orang tua
merupakan problem solving terhadap fenomena tersebut. Aspek politis, pendidikan
kewarganegaraan perlu diberikan kepada seluruh rakyat untuk memahami fungsi
pemerintah, DPR, MPR, dan lembaga-lembaga negara lainnya. Tugas pendidikan
seumur hidup menjadikan seluruh rakyat menyadari pentingnya hak-hak pada negara
demokrasi.
Aspek
teknologis, pendidikan seumur hidup sebagai alternatif bagi para sarjana,
teknisi dan pemimpin di negara berkembang untuk memperbaharui pengetahuan dan
keterampilan seperti dilakukan negara-negara maju. Aspek psikologis dan
pedagogis, sejalan dengan makin luas, dalam dan kompleknya ilmu pengetahuan, tidak
mungkin lagi dapat diajarkan seluruhnya di sekolah. Tugas pendidikan sekolah
hanya mengajarkan kepada peserta didik tentang metode belajar, menanamkan
motivasi yang kuat untuk terus-menerus belajar sepanjang hidup, memberikan
keterampilan secara cepat dan mengembangkan daya adaptasi. Untuk menerapkan
pendidikan seumur hidup perlu diciptakan suasana yang kondusif.
B. TAMBAHAN ILMU
Bila
kita melakukan investigasi, maka tak satu doa pun dari doa-doa dalam Alquran
dan Alhadits yang berisi “permintaan tambahan”, kecuali dalam hal doa: Rabbi
zidni ‘ilman (QS Thaha, 20:114), wa ziyadatan fi al-’ilmi (Alhadits). Dalam hal
rezeki, yang diminta bukan tambahan, tetapi barakah: wa barakatan fi ar-rizqi.
Dalam hal dunia adalah keselamatan: fi ad-dunya hasanah, bukan lain-lain,
demikianlah selanjutnya (baca: Syarqawi Dhafir, Berilmu).
Menambah
ilmu setiap saat sangat signifikan bagi ke hidupan manusia. Rasulullah SAW
sampai bersumpah: Demi Allah seandainya aku tidak dapat menambah ilmu sehari
saja, maka lebih baik aku tidak melihat matahari saat itu. Ini adalah isyarat
bila kita menginginkan ke hidupan yang lebih baik maka manhaj-nya adalah dengan
menambah ilmu-pengetahuan: Man arada ad-dunya fa’alaihi bi al-’ilmi wa man
arada al-akhira fa’alaihi bi al-’ilmi wa man aradahuma fa’alaihi bi al-’ilmi
(Alhadits).
Sebagai
upaya penyadaran umat untuk rajin menuntut ilmi, maka penulis perlu memaparkan
beberapa janji Allah SWT dan pesan Rasul, di antaranya: mengistimewakan mereka
dari yang tidak berilmu (QS al-Zumar, 39:9), memberi derajat yang lebih tinggi
(QS al-Mujadilah, 58:11), mempermudah jalan menuju surga (HR Muslim),
menyamakan kedudukan mereka dengan orang yang berjuang di jalan Allah (HR
Turmudzi), memberi keistimewaan yang lebih dari orang yang hanya beribadah, ilmu
dijadikan sebagai warisan yang terus menerus memproduksi amal kebajikan yang
tak putus karena kematian (HR Muslim).
Dalam
meningkatkan ‘ubudiyah kepada Allah harus berlandaskan ilmu (‘ala ilmin) untuk
dapat memahami kebesaran dan kekuasaan-Nya: Innama yakhsa Allah min ‘ibadihi
al-’ulama. Artinya, sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-Nya
hanyalah ulama (QS Fathir, 35:28). Berarti ilmu merupakan pelita-obor yang
dapat menerangi jalan menuju Tuhan. Tanpa ilmu, dapat dipastikan ibadah yang kita
lakukan nilainya rendah dan boleh jadi tidak sesuai dengan tuntunan Allah dan
Rasul-Nya.
C. TERUS BELAJAR
Tidak
ada istilah “tua” untuk belajar, never old to leam. Konsekuensi doa yang kita
panjatkan harus sejalan dengan amaliyah nyata melalui kegiatan belajar yang
terus-menerus. Nabi Muhammad SAW sekalipun telah mencapai puncak, masih tetap
juga diperintahkan untuk selalu memohon (berdoa) sambil berusaha untuk
mendapatkan ilmu pengetahuan (M Quraish Shihab, 1999:178). Bukankah Allah
Ta’ala telah menyatakan: Dan orang-orang yang berjuang di jalan Kami pastilah
akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan Kami (QS al-’Ankabut, 29:69).
Siapapun
yang punya suatu cita-cita dan ia bersungguh-sungguh berusaha mendapatkannya
maka pasti akan ia dapatkan. Siapapun yang terus menerus mengetuk pintu untuk
mencapai yang dicita-citakan maka pasti akan terbuka. Apa pun yang kamu
inginkan bergabung kepada seberapa besar keinginanmu itu (Az-Zarmuji, 1994:29):
Bi qadri ma ta’tani tanalu ma tatamanna.
Walaupun secara formal kita telah menyelesaikan pendidikan tinggi (S1, S2 dan S3) bukan berarti selesailah tugas belajar. Demikian juga seorang guru atau dosen tidak boleh merasa cukup dengan kemampuan yang dimiliki: “masih banyak yang belum kita ketahui”. Bukankah Imam al-Ghazali (1058-1111 M) --penulis buku Ilya ‘Ulum al-Din, dikenal dengan hujjah al-Islam-- pernah mengatakan: Kulllama izdada ‘ilmi izdada jahli, setiap kali bertambah ilmuku, bertambah pula kebodohanku.
Walaupun secara formal kita telah menyelesaikan pendidikan tinggi (S1, S2 dan S3) bukan berarti selesailah tugas belajar. Demikian juga seorang guru atau dosen tidak boleh merasa cukup dengan kemampuan yang dimiliki: “masih banyak yang belum kita ketahui”. Bukankah Imam al-Ghazali (1058-1111 M) --penulis buku Ilya ‘Ulum al-Din, dikenal dengan hujjah al-Islam-- pernah mengatakan: Kulllama izdada ‘ilmi izdada jahli, setiap kali bertambah ilmuku, bertambah pula kebodohanku.
Orang-orang
yang banyak belajar akan semakin membuka mata kepala (‘ain al-bashar) dan mata
hati (‘ain al-bashirah) untuk semakin tunduk, patuh dan taat kepada manhaj
Rabbani. Untuk itu kita harus banyak membaca, karena membaca sebagai kunci
untuk membuka “gudang ilmu-pengetahuan”, yaitu buku.
Dalam
Islam, landasan pendidikan seumur hidup terdapat dalam ayat-ayat Alquran dan
hadis Rasul, antara lain "Sesungguhnya dalam kejadian langit dan bumi,
serta pertukaran malam dan siang, terdapat tanda-tanda kebesaran Allah bagi
mereka yang mempunyai (mempergunakan) akalnya". (QS. Ali Imran: 190). Dan
pepatah arab "Tuntutlah ilmu dari buaian sampai ke liang lahat".
Kesadaran
akan pentingnya pendidikan seumur hidup menjadi mendalam dengan adanya sejumlah
firman Allah SWT dan hadis Nabi Muhammad yang mendasarinya. Persoalannya,
tinggal bagaimana menjabarkan dan mengimplementasikannya
